Monday, 19 September 2016

Analisa Debit Banjir (Flood Analysis)

Untuk desain pelimpah bendunganan, diperlukan data debit banjir rencana yang realistis. 

Distribusi Curah Hujan Rencana

Banjir rencana di bedakan menjadi dua, yaitu banjir rencana dengan periode ulang tertentu misal banjir (misal Q25) dan Probable Maximum Flood (PMF). Untuk desain bendunganan debit banjir dengan kala ulang 2, 5, 10, 25, 50, 100, 1000 tahun dan PMF. 

Untuk bangunan pengelak, di desain dengan banjir kala ulang 25 tahun, tergantung pada pertimbangan risiko dan biaya pembangunan. Banjir rencana dengan periode ulang tertentu dapat dihitung dan data debit banjir atau data hujan. 

Apabila data debit banjir tersedia cukup panjang (>20 tahun), debit banjir dapat langsung dihitung dengan metode analisis probabilitas Gumbel, Log Pearson-III atau Normal. 

Sedang apabila data yang tersedia hanya berupa data hujan dan karakteristik DPS, metode yang disarankan untuk digunakan adalah metode hidrograf satuan/unit hidrograf. Khusus untuk perhitungan PMF, metoda perhitungan yang paling sesuai adalah hidrograf satuan

Tuesday, 6 September 2016

Resmi Berdirinya Badan Arbitrase Nasional

Mentri Pu Telah Meresmikan Badan Arbitrase Nasional, Sebagai Alternatif Penyelesaian Masalah Konstruksi Indonesia.

Kontrak konstruksi itu berbeda dengan kontrak-kontrak yang lain. Sifatnya dinamis, berdurasi relatif panjang, kompleks dengan kemungkinan perubahan harga dan ukuran yang bisa berubah sewaktu-waktu adalah faktor yang membedakannya. Bahkan ketika sampai ke Pengadilan, penyelesaian sengketa bisa berlarut-larut dan lama. Imbasnya adalah terhambatnya proyek pembangunan Infrastruktur yang berarti merugikan rakyat.

BADAPSKI
Applus buat Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, pada hari Selasa (19/08/2016) telah meresmikan pendirian Badan Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi Indonesia (BADAPSKI). Pendirian Badan ini didasari pada kebutuhan penyelesaian sengketa yang rawan terjadi pada kontrak konstruksi.

Bukan berarti selama ini belum ada Badan yang mengurusi sengketa, sebab memang telah ada BANI (Badan Arbitrase Nasional Indonesia). Hanya saja belum ada yang khusus menangani persoalan konstruksi yang lebih rumit”, terang Menteri PU. 

Dengan adanya BADAPSKI ini diharapkan menjadi solusi penyelesaian sengketa konstruksi dengan cepat, murah, berkepastian hukum dan tidak merusak hubungan antara para pihak yang bersengketa.
Hanya saja menurut Menteri PU, harus dipastikan kredibilitas dari para pendiri BADAPSKI ini. Karena kepercayaan yang menjadi modal dasar baik pada saat mulai sengketa hingga akhirnya saat menyelesaikan sengketa itu sendiri. “Dan harus dipastikan bahwa prinsipnya bukan mencari kemenangan pihak tertentu, tapi mencari keadilan”, tegas Djoko Kirmanto.

BADAPSKI memberi pilihan penyelesaian sengketa melalui Arbitrase, dan atau Alternatif Penyelesaian sengketa dalam bentuk Dewan Sengketa (dispute board)”, tambah Staf Khusus Menteri PU. Dispute board ini bahkan telah menjadi bagian dari standar bidding dokumen pada proyek-proyek dengan pinjaman luar negeri.

Selain rapat pendirian, dilakukan juga penandatangan Deklarasi Badan Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi Indonesia oleh Menteri Pekerjaan Umum dan seluruh tokoh .

Alternatif penyelesaian sengketa di Indonesia telah mempunyai dasar hukum, yaitu Undang-undang Nomor 30 Tahun 1999 yang mencantumkan alternatif penyelesaian sengketa di samping arbitrase dan litigasi.




Website diikuti